THIS IS LOVE
Author 1 : Windy Cindria
Author 2 : Yani Rahmayanti
Author POV
Ditepi laut terlihat seorang pria yang memakai kaos santai berwarna putih, celana
pendek putih dan sepatu kets sederhana. Pria itu tengah serius menatap sebuah foto yang
menggambarkan enam orang pria yang sangat tampan dan mereka terlihat begitu akrab dan
senang sekali difoto itu. “taecyeon hyung yang sudah kami anggap sebagai seorang appa
karena sikapnya yang sangat bertanggung jawab, nichkhun hyung sebagai eomma karena
dia begitu lembut dan perhatian kepada kami, minjun hyung sebagai hyung tertua yang
tidak pernah lelah selalu mengajarkan kami dalam bernyanyi dan menciptakan sebuah lagu
dan juga junho dan chansung yang sudah seperti dongsaeng. Aku sangat merindukan
keluarga kecilku ini” gumamnya dalam hati.
Angin yang berhembus begitu kencang membuat seluruh badannya terasa sangat
dingin, sedingin hubungannya dengan sahabat-sahabatnya di 2PM. 2PM sudah seperti
keluarga, mereka telah tinggal bersama didorm selama 4tahun dan selama 4tahun itulah
mereka menjalin persahabatan. Sebuah persahabatan yang begitu akrab dan hangat
membuat orang lain merasa iri jika melihat kebersamaan mereka itu. Namun, beberapa
bulan terakhir ini, persahabatan mereka sedikit renggang karena kesibukan masing-masing
member. Taecyeon sibuk dengan solo karirnya sebagai aktor, nichkhun sibuk sebagai model
bintang iklan dan pacar barunya, minjun sibuk dengan persiapan debut solonya dan junho
yang mulai sibuk karena tengah belajar akting untuk debut solonya sebagai aktor. Hanya
uyong dan chansung yang tidak begitu sibuk dan karena itulah uyong dan chansung menjadi
orang yang paling sadar akan kerenggangan hubungan mereka ini. Chansung selalu berbuat
onar untuk menarik perhatian para hyungnya ini tujuannya yaitu agar mereka sadar kalau
mereka sudah tidak pernah berkumpul bersama lagi. Beda halnya dengan uyong, uyong
lebih dewasa dalam memecahkan masalah ini dia selalu berusaha mengajak bicara sahabatsahabatnya
dengan baik-baik walaupun terkadang justru dia malah menjadi korban
kekesalan para sahabatnya.
Terlihat jelas airmata jatuh kepipi chubby pria itu, dia tampak menangis namun
langsung dia usap airmatanya dan mengambil handphone genggamnya dan mulai mengetik
sebuah pesan singkat. ‘send: Windy’.
Uyong POV
“haaaah” uyong mengeluh dilihatnya jam menunjukkan pukul 4.30 PM.
5 menit.. 10 menit.. 20 menit.. 30 menit..
“Aish! Kenapa tidak menjawab juga! apa membalas pesan harus membutuhkan waktu yang
lama!” maki wooyoung dengan kesal sambil melototi ponselnya. “ Ah benar-benar kau itu
sebenarnya sedang apa sampai..” belum sempat uyong menyelesaikan ucapannya
ponselnya berdering, ada satu pesan masuk. Dengan wajah terkejut dan penasaran dia
membuka pesannya dengan cepat.
‘Mianhae aku tadi sedang sibuk. Ada apa?’
“Hanya itu saja? Aku menunggu lebih dari 30 menit hanya untuk mendapatkan balasan
seperti ini?” ucapnya dalam hati. Dengan wajah kesal dia menekan nomor ponsel orang
tersebut dan meneleponnya.
Tuut.. tuuu.. tuuut..
“yoboseyo” ucap seorang wanita diujung telpon
“yak!! Aku menunggu balasan pesanmu selama 30 menit, dan kau hanya menulis seperti
itu? Aish kau ini benar-benar” ungkapku kesal pada wanita itu
“aku kan sudah bilang aku sibuk, kenapa malah memarahiku!” ucap wanita itu kesal
“..mianhae.. mianhae windy-ah, aku.. benar-benar kacau” ucapku lembut
Lalu hening dia tidak menanggapi permintaan maafku, aku benar-benar menyesal dia pasti
kesal padaku. Lama tidak ada yang bicara akhirnya aku memutuskan untuk bicara “maaf aku
mengganggumu, aku selalu merepotkanmu aku benar-benar minta maaf” kataku dengan
menyesal. Aku tahu benar bagaimana sifatnya dia pasti sudah meletakkan ponselnya diatas
meja karena kesal.
Kudengar dia menghela napasnya “mm.. tadi aku beli cake, jika punya waktu
datanglah” ucapnya enteng seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Lalu aku
mengatakan akan datang dan memutuskan telponnya. Dia benar-benar teman yang bisa
diandalkan, gadis dengan kepribadian yang menyenangkan yang terkadang bisa sangat
aneh, teman yang sudah kukenal lama dan selamanya akan menjadi teman baikku.
Author POV
Di ruang latihan terlihat 5 orang pria tampan yang sedang berlatih menari, tapi
dibandingkan dengan berlatih menari berlatih perang lebih cocok digambarkan untuk
suasana tersebut. Suasana begitu hening yang terdengar hanya suara berdecit yang
dihasilkan dari gesekan sepatu dan lantai, hanya ada lirikan sinis satu sama lain yang
terpantul dari kaca besar yang dipasang di tembok ruangan. Tidak ada yang bicara satu
sama lain mereka tenggelam pada keasyikan diri mereka masing-masing pada keangkuhan
diri masing-masing. “mianhae aku terlambat” tiba-tiba terdengar suara yang memecahkan
keheningan, wooyoung yang berada di depan pintu sambil membungkukkan badan masuk
ke dalam ruangan dengan napas terengah-engah. Tidak ada respon, tidak ada yang
memarahi atas keterlambatannya bahkan mereka Nampak tidak perduli atas kehadirannya,
hanya chansung si maknae yang ada di paling dekat pintu yang tesenyum padanya, senyum
singkat yang hampir tak bisa dilihat oleh wooyoung. Wooyoung langsung mengambil tempat
didekat chansung dan nichkhun dan mulai berlatih. Tidak ada kata-kata yang terdengar
hanya ada suara decitan sepatu dan napas yang terengah.
Hening.
Jarum jam berada di angka 5, mereka sudah selesai berlatih dan sedang merapikan
barang-barang, junho lelaki dengan mata sipit dan wajah tampan pergi pertama namun saat
ingin membuka pintu tiba-tiba saja chansung berkata dengan nada marah “apa ini lelucon?
Apa tidak bisa kita bersikap dewasa? Apa tidak bisa kita bersikap seperti lelaki? Apa begini
hubungan antara sesame anggota grup? Sampai kapan akan seperti ini?” mendengar itu
junho terdiam tepat didepan pintu, taecyeon yang sedang menutup resleting tasnya kaku
untuk beberapa detik lalu akhirnya dia mengangkat tasnya dan pergi “berhenti bicara tidak
penting” ucap taecyeon dengan nada datar tepat saat berhadapan dengan chansung, lalu
taecyeon pergi keluar ruangan di lanjutkan dengan junho yang sedari tadi membatu didepan
pintu lalu minjun yang hanya melirik sedikit ke arah chansung, setelah itu nichkhun
menepuk bahu chansung dan pergi juga.
Chansung tetap membatu di posisinya tadi masih terkejut atas apa yang terjadi
hingga wooyoung memegang bahunya lalu berkata “tenanglah aku akan memperbaiki
hubungan kita ini dan semua akan seperti semula. Chansung-ah aku berjanji padamu!
Percayalah pada hyungmu ini!” dengan tegas wooyoung mengatakan itu pada chansung
dan meminta chansung untuk cepat beristirahat karena besok akan lebih melelahkan, dia
juga mengatakan akan pulang terlambat karena harus menemui seorang teman.
‘haah’ chansung menghela napas sambil menatap kelangit-langit lalu menepuk bahu
hyungnya dan keluar dari ruangan itu lalu berkata “jangan pulang terlalu larut, jangan
sampai terkena masalah. Aku tidak akan mengunci kamar”
Setelah chansung keluar dari ruangan dan menyisakan wooyoung sendirian, dia
terlihat lebih frustasi dibandingkan dengan chansung, berjongkok sambil berkali-kali
menghela napas menyesali apa yang dia katakan kepada dongsaengnya, padahal dirinya
sendiri tidak yakin apakah bisa memperbaiki semua, padahal diantara mereka semua dialah
yang terlihat seperti dongsaeng ketimbang hyung. Dia marah kepada keadaan bagaimana
yang dengan mudahnya merusak persahabatan mereka, persahabatan yang sudah dijalin 4
tahun dihancurkan oleh ego dan kesibukan masing-masing personil dan juga 2 jam paling
sial dalam hidupnya ini. Dia hampir menangis lagi kalau tidak menahan diri dan teringat janji
bertemu dengan temannya dia pasti akan menangis.
Akhirnya dia bangun dan mengambil tasnya lalu keluar dari ruangan itu.
…
“Ah dasar si cengeng uyong bodoh kenapa malam-malam seperti ini malah ingin
bertemu ditaman, awas saja kalau bertemu akan aku habisi dia” wanita muda dengan
rambut hitam ikal sebahu dan mata besar yang indah itu menggerutu dengan terus mencari
lelaki yang disebut-sebutnya tadi. Matanya terus mencari-cari, hingga akhirnya dia
menemukkan sosok laki-laki bertopi yang sedang melihat kearahnya sambil melambaikan
tangan kearahnya.
Wooyoung POV
Ah ternyata dia datang, kupikir dia tidak datang setelah memakiku di telpon. Saat
melihatnya aku langsung melambaikan tanganku padanya, ah rasanya lama sekali aku tidak
bertemu dengannya, dia masih sama seperti dulu gadis ekspresif yang menolongku turun
dari pohon saat masih kecil, yang akhirnya menjadi teman baikku sampai sekarang. Tidak
ada yang bisa kututupi darinya masalah sekecil apapun aku akan memberitahunya dia sudah
seperti kakak, ibu, dan adik yang sangat baik.
“Maaf membuatmu keluar malam-malam seperti ini” ucapku saat dia sudah dekat
kearahku, ah dia terlihat berbeda, dia terlihat cantik. Aish apa yang aku pikirkan.
Bukk.
Tiba-tiba saja dia memukul lenganku dengan kepalan tangannya yang kuat, aku kaget
bagaimana bisa dia punya kekuatan sebesar itu. “yak!! Apa yang kau lakukan? Kenapa
memukulku begitu?” ucapku dengan wajah kesakitan sambil memegangi lenganku. Dia lalu
tertawa dan berkata “itu balasan untukmu karena memarahiku di telpon dan membuatku
datang kesini” kemudian dia tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. Melihatnya
yang seperti itu benar-benar membuat jantungku berdetak kencang, bagaimanapun juga
saat melihatnya aku merasa sangat tenang. “maaf membuatmu datang.” “mana cakenya?
Kau bilang kau beli cake, kenapa kau tidak membawanya?”kataku menutupi
kecanggunganku, dia lalu memasang wajah heran dan kemudian duduk di kursi taman
panjang di bawah pohon besar yang ada di belakang kami. “apa katamu? Kue? Ah benarbenar
jika kau mau kue kenapa tidak datang saja kerumahku, kenapa malah ingin bertemu
ditempat ini” ungkapnya kesal, aku yang sudah duduk disampingnya hanya tersenyum
melihat ekspresi wajahnya yang lucu, sambil berharap aku akan selalu berada disampingnya
seperti ini.
“.. jadi apa yang terjadi?”tanyanya, dengan wajah serius menengadah ke langit. Aku
menghela napas, lalu dia memalingkan pandangannya padaku, sekarang dengan wajah
prihatin, aku tersenyum lalu mulai bercerita, aku menceritakan semua hal padanya
bagaimana hubungan ku dengan teman-teman satu grupku saat ini, dia mendengarkan
dengan penuh perhatian sampai aku selesai bicara dia tidak mengatakan apapun, dia hanya
diam sambil tetap menatapku dengan wajah prihatinnya mungkin karena dia tahu benar
bagaimana hubungan kami sebelumnya, aku selalu menceritakan padanya, dia tahu benar
bagaimana susahnya masa-masa training kami yang sangat lama, dia tahu benar bagaimana
besarnya mimpi-mimpi kami, dan bagaimana kami sebelumnya saling perduli seperti satu
keluarga.
Akhirnya dia memalingkan wajahnya ke tanah, dia menghela napas tapi masih
terdiam. Sesaat sangat hening hanya ada suara serangga malam dan hembusan angin, kami
tetap terdiam sampai akhirnya dia bicara “kalau begitu kau harus bicara dengan mereka”
setelah kalimat pendek itu dia terdiam lagi.
6 AM At Dorm
Masih sangat jelas terasa suasana hening yang menyelimuti dorm mereka, satu
persatu dari mereka tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Nichkhun dan Chansung
yang sibuk memakan sarapan pagi mereka, Taecyeon yang masih berada di dapur
menyiapkan makanannya, minjun and junho yang berada di kamar mereka mempersiapkan
barang-barang mereka.
“selamat pagi” sapa wooyoung memecahkan keheningan, yang disambut senyuman
dan ucapan selamat pagi dari chansung, bersamaan dengan itu junho dan minjun yang
sudah selesai dengan urusan mereka bergabung ke meja makan tanpa bicara. Sekarang
mereka semua sudah berada dimeja makan tapi setelah ucapan selamat pagi itu tidak ada
lagi pembicaraan, semua terdiam. Wooyoung memandangi temannya satu persatu merasa
sedih dan kecewa “bisakah kita menyelesaikan masalah ini sekarang? Aku benar-benar
muak dengan keadaan ini?” ungkap wooyoung, tidak ada yang merespon, kemudian
taecyeon malah membawa piringnya masuk ke dapur hingga akhirnya chansung yang tidak
tahan dengan keadaan itu berkata “hyung tidak bisakah kau duduk disini dan dengarkan
wooyoung hyung bicara” dia mengatakan itu pada taecyeon yang ada didapur, lalu taecyeon
keluar sambil berkata “aku tidak merasa ada masalah apapun, jika kalian punya masalah
selesaikan sendiri. Aku tidak berminat terlibat pada masalah kalian” mendengar ucapan
taecyeon minjun lalu berdiri dan melangkah ke dapur sambil berkata “tentu saja, orang
seperti dia tidak mungkin mengerti orang lain” kalimatnya itu ditujukkan kepada taecyeon
yang membuat suasana semakin panas.
Mendengar itu taecyeon menghampiri minjun lalu berkata “yak kau benar aku tidak
bisa mengerti orang lain, khususnya orang-orang seperti mu, HYUNG.” Setelah berkata
seperti itu taecyeon pergi keluar dari ruang makan, sementara yang lain hanya melihat
dengan kekecewaan kejadian yang baru saja terjadi. “kalian benar-benar mengacaukan
sarapan pagiku” ucap junho dengan nada marah yang lebih seperti menahan tangis lalu
melangkah keluar dari sana.
Setelah itu tidak ada yang percakapan lagi, hanya ada suara keran air yang
dinyalakan minjun di dapur, sementara chansung, nichkhun, dan wooyoung masih terdiam
di kursi mereka. “oh ya, sore nanti aku ingin menonton 2am perform dipanti asuhan seoul.
Kalian ada waktu ? mari kita pergi bersama..” ajakku pada chansung dan nichkhun hyung.
Berharap mereka punya waktu untuk pergi bersama. Hening. 10menit tidak ada jawaban
dari mereka berdua. “mian uyong-ah aku tidak bisa, aku sudah ada janji dengan kekasihku
untuk menonton sebuah film dibioskop. Chansung-ah kau saja yang menemani hyungmu ini,
kau tidak sibuk kan ?” jawab nichkhun hyung santai. “kenapa kau hanya meminta aku yang
menemaninya ? kenapa kau tidak suruh juga taecyeon hyung, junho hyung, atau jun.k
hyung yang menemaninya. Kenapa hanya aku ? aku juga sibuk sama seperti kalian. Aku
sangat sibuk !” jawab chansung geram dan langsung pergi meninggalkan kami berdua. “hey,
chansung-ah ! tidak bisakah kau bersikap lebih sopan ? ada apa dengan anak ini, kulihat
akhir-akhir ini sikapnya sudah seperti anak berandalan” ungkap nichkhun hyung yang mulai
menyadari perubahan dari sikap chansung. Aku menepuk pundak nichkhun hyung
menginsyaratkan bahwa chansung sedang lelah “tak apa hyung, aku bisa pergi sendiri
kesana. Kau selamat bersenang-senanglah”.
Author POV
4PM at Panti Asuhan Seoul
“hey uyong kesini ?” terlihat seorang lelaki melambaikan tangannya kearah uyong
yang baru saja membuka pintu sebuah panti asuhan yang sangat sederhana ini. Suasana
begitu ramai, sampai-sampai uyong kesulitan untuk berjalan. “kau hanya sendiri ? mana
yang lain ? kenapa hanya kau yang datang ? menyedihkan sekali..” seulong 2am bertanya
pada uyong begitu dia berhasil membawa uyong masuk kedalam ruang ganti pakaian. Uyong
hanya tersenyum dan berkata ‘kalian hebat, aku berharap suatu saat nanti 2pm juga akan
melakukan kegiatan sosial seperti kalian ini. Daebak hyung !’ lelaki itu langsung membalas
senyum uyong dan menepuk punggungnya sambil mengucapkan terimakasih atas
kedatangannya.
Sungguh seperti sebuah konser kecil nan megah, grup 2am mampu membuat anakanak
dipanti ini seperti sedang menonton konser sungguhan, dengan panggung kecil dan
lampu-lampu hias yang unik mereka merubah ruang makan+ruang santai panti seperti
panggung kecil yang indah.
“yeobseyo ? mwo ? baiklah aku akan segera kesana. Kamsahamnida..” uyong
mendapat sebuah telpon setelah itu dia langsung pamit pulang duluan karena ada hal yang
harus diurus. “mianhae hyung aku tidak bisa menonton sampai selesai. Aku pamit dulu,
sampai jumpa” pamitnya kepada semua member 2am.
Terlihat uyong mengendarai mobilnya dengan kecepatan super cepat, dia menyalip
sana-sini dan terlihat terburu-buru sekali. 30 menit kemudian Uyong sudah memarkir
mobilnya tepat di parkiran sebuah Kantor Polisi Seoul.
Uyong POV
Chansung-ah kau berbuat apalagi, kenapa kau harus berhubungan dengan kantor
polisi lagi. Tanyaku dalam hati setelah menerima telpon dari kantor kepolisian seoul, tanpa
berfikir panjang lagi aku langsung melaju mobilku menuju kantor polisi. Entah apa lagi yang
diperbuat olehnya yang pasti aku tidak boleh marah padanya aku harus berbicara baik-baik
padanya dan memintanya untuk tidak seperti ini lagi. Aku yakin dia seperti ini karena
merasa frustasi dengan hubungan kami di 2pm yang sudah tidak kompak lagi dan sekarang
aku harus bisa meyakinkan dia kalau semua akan baik-baik saja dan akan kembali seperti
dulu lagi. Ya, harus aku harus bisa meyakinkan dongsaengku yang sangat aku sayangi ini.
“permisi, saya wakil dari Hwang Chansung. Dimana dia sekarang ?” aku langsung
bertanya setibanya dikantor polisi. Seorang ahjussi berwajah sangar menghampiriku entah
mengapa dia menatapku dengan tatapan yang sepertinya sangat membenciku.
“bawa anak itu kemari” pintanya pada rekan yang sedang berjalan disampingnya.
Kemudian ahjussi itu mempersilahkan aku untuk duduk, mengeluarkan buku
catatannya dan langsung menasihatiku. Seperti ini katanya “hah, kau bukankah sudah
kubilang kau untuk mengajari dongsaengmu ini. Jangan berbuat onar lagi, aku sudah bosan
menangkapnya. Sekali lagi aku menemukan dia berbuat onar akan aku masukkan kedalam
penjara dongsaengmu ini biar kapok. Mengerti ?”
“hyung macam apa kau ini, membiarkan dongsaengmu menjadi berandalan. Jangan
terlalu sibuk bekerja, rawat dongsaengmu ini dengan baik, kalau aku lihat sebenarnya
diapun bukan anak yang nakal juga..” katanya sambil memberikan sebuah catatan kecil
untukku. Setelah itu kami bergegas pergi meninggalkan kantor polisi ini.
Tidak banyak kata yang kami bicarakan selama keluar dari kantor polisi, chan lebih
banyak diam dan sepertinya diapun sedang tidak ingin ditanya. “mari pulang bersama” aku
memecah keheningan diantara kami berdua. “tidak. Hyung pulang duluan saja. Aku masih
ada urusan. Terimakasih telah membantuku dan kau hati-hati dijalan hyung !” kemudian
chan lagi-lagi meninggalkanku sendirian. Anak ini ada urusan aplagi dia, setahuku dia anak
yang paling malas lama-lama berada diluar dorm. Batinku kesal.
Author POV
5.00PM at Pantai Busan
Lagi-lagi pria itu berdiri ditepi laut, merasakan sejuknya angin dan kesegaran suasana
pantai. Kali ini dia tidak sedang menatap sebuah foto, melainkan sedang menonton sebuah
video. Dia duduk dipingir pantai yang tidak beralaskan apa-apa sambil asyik menonton
sebuah video. Video kebersamaannya bersama para sahabatnya di2pm ketika sahabatsahabatnya
ini memberikan sebuah surprise kecil dihari ulang tahunnya. Dia tersenyum
kemudian tertawa da......n menangis. Airmata jatuh dipipinya dia tidak bisa memendung
kesedihan dan kerinduannya pada sahabat-sahabatnya di2pm.
Angin tak mampu lagi menahan tangisnya, dia menangis terisak-isak bersama
berhembusnya angin dan disaksikan deburan ombak pantai dia berkata “ahh aku menangis
lagi, aku menangis karena angin. Ya, mataku berair karena angin. Angin begitu kencang
sehingga membuatku mengeluarkan airmata” katanya lirih.
10.30PM at Dorm
Langit sudah mulai gelap ketika uyong memarkirkan mobilnya, setelah mengunci
otomatis mobilnya dia melirik sebuah jam di pergelangan tangannya dan langsung masuk
kedalam gedung menuju dormnya. Terlihat sepi didalam dorm 2pm, mungkin uyong
member pertama yang pulang lebih awal kedorm malam ini. Terdengar suara langkah kaki
ketika dia hendak membuka pintu kamarnya. “uyong-ahh, berbuat onar apalagi anak itu ?
mengapa anak itu semakin menjadi berandalan saja. Apa dia mau menghancurkan grup ini
dengan kenakalannya ? aku tidak habis pikir apa maunya anak itu” jun.k yang sedang
mengambil air minum langsung bertanya pada uyong ketika melihat uyong baru saja pulang.
Entah jun.k tahu darimana kalau hari ini uyong dipanggil lagi kekantor kepolisian karena ulah
nakal chansung yang pasti jun.k sudah mulai menyadari ada yang beda dari chansung dan
itu membuat uyong malah senang karena ternyata jun.k masih peduli terhadap temantemannya.
“hyung tahu ? darimana hyung tahu ?” tanya uyong heran. Karena tidak mungkin
chansung secara langsung bercerita pada jun.k. bisa mati dia kalau hyungnya yang satu ini
tahu. “tidak usah banyak bertanya, kau jawab saja pertanyaanku. Apa yang anak
berandalan itu perbuat sampai kau dipanggil kekantor polisi ?” jawabnya protes. Tidak lama
chansung pulang, dia pulang dalam keadaan yang sedikit mabuk. Dia menyapa kedua
hyungnya dan langsung masuk kedalam kamar. Jun.k tidak begitu saja membiarkan
chansung pergi dia membutuhkan kejelasan kenapa chan bisa sampai masuk polisi lagi.
“mwo ? chan tertangkap polisi lagi ? bagaimana bisa ?” nichkhun yang baru datang
kemudian terkejut mendengar percakapan mereka. Dia sangat kecewa dengan chansung,
dia memarahi chansung bagaimana bisa chansung mengulangi hal bodoh ini lagi. Dengan
emosi tingkat dewa nichkhun habis-habisan memarahi chansung. Taecyeon dan junho yang
baru saja pulang menghampiri mereka dan ikut memarahi chansung. Keadaan dorm malam
ini sungguh sangat kacau dan panas, mereka semua habis-habisan memarahi chansung
menuduh chansung ingin membubarkan grup karena sikap kekanak-kanakannya ini. Hanya
uyong yang diam dan tidak memarahi chansung, dia menatap sahabat-sahabatnya yang
sedang bertengkar ini dengan tatapan pilu. “TIDAK BISAKAH KALIAN SEMUA DIAM !!!”
uyong yang sedari tadi diam berteriak kencang kearah sahabat-sahabatnya ini. “kenapa
kalian hanya bertanya kenapa chansung melakukan tindakan bodoh ini, tidakkah kalian
semua bertanya mengapa chansung sampai melakukan hal bodoh ini berkali-kali ?? apa
yang menjadi penyebab mengapa chansung bisa berubah seperti ini ? pernah kalian
bertanya seperti itu ?!” uyong melanjutkkan kata-katanya. “kita sudah tidak sekompak dulu,
kalian sangat sibuk dengan urusan kalian. Grup ini mulai tidak terurus, kalian pergi pagi
pulang larut malam. Kita sudah jarang komunikasi, sekalipun berkomunikasi hanya debat
yang berujung pada pertengkaran. Kalian tidak menyadarinyakah ? chansung seperti itu
karena kesalahan kita semua yang tidak lagi peduli terhadap grup ini. Dia melampiaskan
kekesalannya dengan melakukan hal-hal bodoh itu karena ingin mendapat perhatian dari
kalian semua, agar kalian semua sadar kalau kita sudah bukan seperti sebuah grup lagi.
Akupun kecewa aku muak dengan semua ini !” airmata bercucuran dipipi uyong ketika dia
mengungkapkan kekesalannya itu pada sahabat-sahabatnya. Semua diam, tidak ada yang
mengeluarkan sepatah katapun. Mereka mulai mengerti dan menyadari itu semua namun
masih belum ada yang membuka suara sekadar untuk mengatakan maaf dan penyesalan.
“sungguh aku mau mati rasanya, aku sangat merindukkan kebersamaan grup ini. Aku
sangat merindukkan kalian semua..” kali ini uyong yang lebih dahulu meninggalkan mereka,
uyong meraih jaketnya dan pergi berlalu meninggalkan para sahabatnya.
Hening.
20menit berlalu suasana masih sepi, diantara mereka masih belum ada yang membuka
mulut. Jun.k teacyeon dan nichkhun terduduk lemas dibawah samping kulkas sementara
chansung dan junho mematung ditempat mereka berdiri. Tepat pukul 00.00 am alarm
handphone kelima cowok-cowok itu berbunyi berbarengan.
‘Taecyeon: wow hari ini hari ulang tahun uyong’,
’Nichkhun: piyoung birthday’,
’Jun.k: uyong ultah uyong ultah’,
’Junho:30 April hari ini ulang tahun uyong. Jangan LUPA!!!’,
’Chansung: hari ini makan-makan besar dihari ulang tahun uyong hyung’.
Seperti itulah isi kalimat dari alarm mereka. Terlihat chansung menangis dan junho
menahan airmatanya, suasana yang tadinya kacau berubah menjadi sangat menyedihkan.
“bagaimana mungkin aku bisa lupa kalau hari ini hari ulang tahun uyong, seharusnya aku
tidak membiarkan dia pergi malam ini dalam keadaan seperti itu. Uyong-ah maafkan
hyungmu ini” ucap jun.k lirih memecah keheningan.
‘nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan hubungi beberapa saat lagi’
berulang kali nichkhun melakukan panggilan telpon ke nomor uyong namun tidak ada
jawaban karena nomornya tidak diaktifkan. Semua terlihat khawatir, mereka khawatir dan
merasa bersalah pada uyong yang ternyata selama ini selalu berusaha mengembalikkan
keadaan seperti dulu, namun karena keegoisan masing-masing mereka selalu mengabaikan
dan tidak memperdulikan uyong.
Diam.
Semua terdiam menyesali kejadian ini.
Uyong POV
Maafkan aku telah berbicara kasar pada kalian, sungguh aku tidak bermaksut tetapi
kenapa kalian seperti ini. Mungkin sekarang mereka sedang bertanya-tanya kenapa aku
marah-marah tidak jelas pada mereka namun semua itu kulakukan untuk meyadarkan
mereka. Aku harap mereka sudah menyadarinya sekarang. “mungkin mereka semua lupa
hari ini ulang tahunku. Aish aku ini bukankah terlihat sangat menyedihkan?” tanyaku pada
wanita yang sedang duduk disampingku. Setelah puas mengungkapkan semuanya pada
mereka entah mengapa aku ingin bertemu windy, aku merasa lelah aku ingin melepas
semua kepenatanku ini padanya dan untung saja dia mau aku ajak keluar malam-malam
seperti sekarang ini. Awalnya ketika kutelpon dia marah padaku karena telah mengganggu
jam tidurnya, namun setelah dia tahu aku sudah berada didepan gerbang rumahnya dalam
keadaan yang sangat kusut akhirnya dia tidak marah lagi dan malah mengajakku keluar
untuk makan ice cream kesukaan kami.
“maaf, aku merepotkanmu lagi..”
“memang. Kau memang selalu merepotkanku, namun aku merasa senang jika kau sudah
mulai merepotkanku” jawabnya yang malah membuat hatiku berdebar-debar ketika dia
bilang merasa senang ketika aku mulai merepotkannya. Sungguh aku tak tahu perasaan apa
ini yang pasti sekarang ini aku sangat ingin sekali memeluk windy dan mengecup keningnya.
“terimakasih. Terimakasih karena selalu mau aku repotkan..” windy sudah berada dalam
pelukanku, sungguh aku merasa sangat nyaman memeluknya seperti ini.
Author POV
Satu minggu sudah berlalu sejak kejadian pada malam hari sebelum ulang tahun
uyong di dorm, puncak dari kekacauan hubungan grup ini telah berlalu dan hubungan
mereka sudah kembali seperti semula. Semua bersatu, berkumpul bersama dan tak ada lagi
yang pergi sendiri-sendiri diakhir pekan. Sore ini mereka semua berada diruang latihan,
serius latihan mereka sampai lupa hari sudah sore mereka mulai berlatih sejak jam 10 pagi
semua mulai kelelahan namun masih tetap semangat. “satu kali lagi, mari kita lakukan satu
kali lagi” ajak junho yang terlihat sangat kelelahan namun tetap ngotot untuk melakukan
tarian sekali lagi. “apa kau tidak lelah, kita istirahat dulu 15menit baru kita lakukan lagi.
Mari junho kita istirahat dulu” pinta nichkhun pada junho namun tidak ditanggapinya sama
sekali. Bukannya mendengarkan perkataan hyungnya junho malah bangkit berdiri lagi dan
menarik uyong untuk ikut latihan bersamanya, mau tak mau uyongpun menerima ajakan
junho yang terlihat memaksa sekali. Teman-teman yang lain tidak mengikutinya karena
mereka semua kelelahan.
GUBRAK. Junho terjatuh dan pingsan, semua berkerumun menghampiri junho yang pingsan
mereka sangat panik dan khawatir dengan keadaan junho. “aish, hyung bangun” “Ahh
hyung kenapa tadi kau mau saja diajak latihan olehnya. Kalau kau menolak mungkin dia
akan berhenti berlatih dan tidak jatuh pingsan seperti ini.” Ucap chansung pada uyong yang
panik melihat keadaan junho. “tadi aku sudah berusaha menolaknya tapi dia memaksa.
Kalian semua lihat kan tadi bagaimana dia memaksaku ?” jawab uyong yang tak kalah
paniknya dari chansung. “sudah sudah tidak perlu berdebat, uyong bisa kau ambilkan
minyak angin yang ada dikamar?” nichkhun melerai perdebatan diantara chansung dan
uyong. “baik, akan kuambilakan” uyong pergi meninggalkan ruang latihan dan menuju
kamar untuk mengambil minyak angin.
Sesampainya uyong kembali ke ruang latihan..
“SURPRISE !!! HAPPY BIRTHDAY JANG WOOYOUNG !!”
Sebuah kejutan ulang tahun untuk uyong, junho yang tadi sedang pingsan kini sudah
memegang sebuah kue ulang tahun berukuran jumbo bertuliskan ‘saengil chuka hamnida
baby piyoung’ disampingnya sudah duduk semua teman-teman yang lain sambil memegang
terompet kecil. Uyong tak menyangka kalau dia sedang dikerjai teman-temannya, dia
merasa kesal namun sangat bahagia. Dia tak dapat menahan rasa bahagianya dan akhirnya
airmata pun jatuh dipipinya yang sangat chubby itu.
“dasar cengeng” sebuah ejekan yang dilontarkan windy saat itu mampu membuat uyong
berhenti menangis, uyong tambah terkejut dan merasa malu karena ternyata windy juga
hadir disini. “selamat ulang tahun kekasihku yang sangat cengeng” windy mencium kedua
pipi uyong dan memeluknya erat.
“aish adegan yang satu ini bukankah tidak ada dalam skrip..” junho memanyunkan bibirnya
kesal melihat uyong dan windy.
Kekekekeke..
Flashback..
Sesaat setelah uyong keluar mengambil minyak angin
Junho bangun dari aktingnya yang berpura-pura pingsan dan mereka langsung mengatur
strategi kilatnya itu.
Junho: “nichkhun hyung, taecyeon hyung, jun.k hyung dan kau chansung pegang terompet
ini. Nanti ketika uyong hyung memasuki pintu kalian tiup terompet ini sekencangkencangnya
sambil bilang ‘SURPRISE’ oke ? kalian mengerti ? dan windy nuna, kau berdiri
saja ditu. Ya disitu, kau hanya harus tetap berdiri sampai uyong hyung menyadari kalau ada
kau disini. Oke ?” . junho si nuneo bertindak layaknya seorang sutradara yang sedang
mengatur para pemainnya untuk tampil bagus.
Taecyeon: “lalu, kau yang memegang kuenya ? hey junho, kenapa aktingmu yang paling
mudah ?”
Junho: “ya, aku yang akan memegang kue ini sambil tersenyum manis padanya. Itu bukan
sebuah akting yang mudah hyung, kau harus tahu itu..”
Nichkhun, Jun.k, Chansung: “ya ya ya ya ya sebaiknya kita ikuti apa yang dia katakan dari
pada rencana ini gagal karena dia ngambek tidak ingin melanjutkannya...”
Junho yang mendengar itu langsung memanyunkan bibirnya dan memukul temannya satu
persatu..
Kekekekeke..
~SELESAI~
Komentar